Last Updated on December 8, 2025
Optimisme pemulihan ekonomi daerah dan meningkatnya arus investasi industri nasional membuka peluang baru bagi kolaborasi strategis di Jawa Tengah. Salah satunya terwujud melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Green Java Solution (GJS) dan Bank Arto Moro, yang digelar di Kantor Pusat Bank Arto Moro, Jalan Elang Raya No. 99 Mangunharjo, pada Kamis (4/12).
Rombongan manajemen GJS yang dipimpin Direktur Green Java Solution, Nicholas Chong, bersama Chong Kah Yen dan tim, serta Komisaris Utama PT Maju Selaras Sejahtera, Kukrit Suryo Wicaksono, melakukan kunjungan resmi ke Bank Arto Moro. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Komisaris Utama Bank Arto Moro, Prof. Dr. H. Subyakto, SH, MH, MM, beserta jajaran direksi dan karyawan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting yang menegaskan komitmen kedua pihak dalam mendorong pengembangan Investasi Industropolis Batang secara berkelanjutan. Kunjungan ini sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian Jawa Tengah.
Kerja Sama Strategis
Melalui penandatanganan MoU dengan GJS, Bank Arto Moro hadir sebagai mitra bank lokal yang menyediakan berbagai layanan perbankan untuk mendukung operasional GJS. Layanan tersebut mencakup fasilitas payroll, penempatan deposito, pembiayaan karyawan, hingga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Kerja sama ini juga menyentuh sektor UMKM dan mendorong penguatan ekosistem ekonomi di sekitar proyek industri GJS.
Komisaris Utama sekaligus PSP Bank Arto Moro, Prof. Subyakto, menegaskan bahwa perbankan daerah siap menyambut masuknya investasi berskala internasional. Ia menilai kehadiran Green Java Solution membawa angin segar bagi pertumbuhan industri berkelanjutan di Jawa Tengah. “Bank Arto Moro siap menjadi mitra strategis untuk memastikan dukungan terhadap ekonomi lokal dapat berjalan optimal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Utama Bank Arto Moro, Darmawan, S.Sos, MM, menekankan bahwa kemitraan ini memperluas peran bank rural dalam mendorong transformasi ekonomi hijau. Ia melihat masa depan industri menuntut sinergi antara teknologi dan keuangan. “Melalui kemitraan dengan GJS, kami berkomitmen menjadi motor percepatan ekonomi hijau dan digitalisasi bagi pelaku industri dan masyarakat sekitar,” tutur Darmawan.
Baca Juga: Mendorong Pertumbuhan UMKM Jawa Tengah
Dukungan Perkuat Investasi Hijau
CEO Green Java Solution, Nicholas Chong, yang merupakan investor asal Malaysia, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan profesionalisme Bank Arto Moro. Ia menilai keberadaan lembaga keuangan lokal yang kuat menjadi unsur penting dalam keberhasilan proyek industri berskala besar.
“Kami sangat terkesan dengan profesionalisme dan komitmen Bank Arto Moro. Terus terang, kami melihat Jawa Tengah sebagai wilayah strategis untuk ekspansi industri berstandar global. Kami juga ingin membangun ekosistem finansial yang solid bagi ribuan tenaga kerja yang akan terlibat dalam proyek kami,” terang Nicholas.
Green Java Solution berencana membangun pabrik pengolahan sampah, khususnya limbah elektronik dan plastik, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Investasi Industropolis Batang, Jawa Tengah. Nilai investasinya mencapai US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun. Pabrik tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 80 hektare dan diproyeksikan menyerap hingga 3.500 tenaga kerja.
Selain mendorong industrialisasi, kedua pihak juga membuka peluang kerja sama dalam penguatan UMKM. Kolaborasi ini mencakup pembiayaan mikro dan program literasi keuangan bagi masyarakat di sekitar kawasan industri, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.
Komisaris Utama PT Maju Selaras Sejahtera, Kukrit Suryo Wicaksono, menilai MoU ini sebagai momentum penting bagi semua pihak. Ia menyebut kolaborasi tersebut memperkuat peran bank rural dalam mendukung investasi hijau dan pengelolaan limbah berteknologi tinggi.
“Pertemuan ini semoga menjadi momentum bagi kita semua dalam mendorong investasi hijau di Jawa Tengah. Harapannya, Jawa Tengah dapat menarik lebih banyak investor sehingga berkembang menjadi salah satu pusat investasi di Indonesia,” terang Kukrit.




